Tampilkan postingan dengan label puisi untuk negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi untuk negeri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

NEGERI ENAM MENARA

















Gemerincing lonceng dalam balutan wangi dupa
Memecah roti dalam kekhusukan dinding tua
Teralirkan darah dalam cawan anggur
Terpaku dalam derita bertetes peluh bercampur darah
Untuk satu kebebasan dari maut hidup manusia
Walau kini terpecah dua
Namun tetap satu makna,satu rasa,satu asa

Menengadah ke cakrawala
Dalam lantunan hymne dan pengosongan jiwa
Berdiam diri dalam kekarnya beringin tua
Mencari kedamaian, menembus nirwana

Sembah sujud dalm wangian kembang beragam
Alam dalam satu sembah
Manusia dalam satu rencana
Dan panutan dalam banyak rupa
Menuju suatu harmoni dalam keselarasan semua umat manusia

Satu dalam banyaknya warna
Taat dalam semesta tunggal kuasa
Tiada Tuhan selain Allah
Dalam ketaatan berwaktu lima

Pencipta dalam banyak nama
Kuasa dalam banyak sosok panutan mulia
Sujud sembah mencapai sorga
Dalam beragam dupa dan wangian senja

Inilah NEGERI ENAM MENARA
Dalam satu wadah pijakan tanah
Berbalut birunya samudra

Jika mereka mengatakan lima,bagiku enam adalah sempurna
Selaras bergandengan dalam pelukan mesra
Menangis, dan tertawa
Dalam haru dan riang canda

Inilah NEGERI ENAM MENARA
Dalam balutan semerah darah
Dan seputih salju
Tercengkram dalam cakar kokoh bermerah pita
Terbentang dari utara sampai selatan
Dari barat sampai ke timur
Berkilaunya negeri zamrud katulistiwa

Jika keindahan itu pergi oleh angkara murka
Untuk apa menjadi negeri enam menara?
Bagiku biarlah bukan bagimu
Asal rapat genggaman tangan tak terlepas dalam tipu daya
Dan biarkan intaian kedengkian pupus sirna
Oleh rasa dalam ungkapan jiwa manusia
Yang terikat dalam rantai beranyam sutra
Lembut berbaur dalam langit biru

Indahnya NEGERI ENAM MENARA
Jika semua merasa hangat dalam pelukan mesra
Berdiri dalam satu degup barisan
Bukan manusia melawan manusia
Bukan kitab melawan kitab
Bukan aku melawan kamu
Tapi kebaikan melawan keburukan
Dan kebenaran melawan semua ketidakbenaran
Biarkan kejujuran berperisai akhlak
Sehingga semua untuk satu, dan satu untuk semua

Indahnya NEGERI ENAM MENARA…….


Maret 3rd-2012

Sabtu, 31 Desember 2011

SELAMAT TAHUN BARU 2012 INDONESIA

 
Kilas balik waktu demi waktu
Napak tilas perjalanan bangsaku
Dari prestasi sampai petaka
Bahkan bencana
Semua terjadi, tapi
Negeri ini masih terpuruk
Dalam atmosfir korupsi,dan anti sosial
Hukum tak lagi berjalan selaras
Yang berharta diatas, yang tak punya tertindas
Pasal dapat dijual-beli
Undang-Undang bukan lagi
Pohon beringin yang menancap bumi pertiwi
Pemimpin hanya bertutur tanpa berprilaku
Menjaga wibawa,tanpa rasa malu

Timur Tengah begitu bergolak,
Ketika rakyat tertindas dalam tirani
Bakar diri jadi pemicu revolusi

Tapi tidak di negeri ini

Dikala seorang pemuda menjemput ajal
Dan bukan ajal yang menjemputnya,dalam balutan nyala api
Semua berlalu, dan penguasa tetap diam dalam kelu

Menjadi martir untuk bangsa barbar???

Siapa kuat akan berkuasa
Siapa lemah, nyawa tak berarti apa-apa

Waktu demi waktu,terus berlalu
Rakyat dalam bangsa
Meregang nyawa

Rakyat dalam bangsa
Menangis pilu

Rakyat dalam bangsa
Tertindas,dalam pijakan penguasa

Rentetan tembakan,
Tendangan,penghinaan,caci maki dan intimidasi
Diterima rakyat dalam ketidakberdayaan

Tatkala aparat bukan menegakkan hukum
Tetapi merasa menjadi HUKUM itu sendiri
Terpuruklah negeri ini

Semua telah berlalu….
Biar lembaran kelam kelabu
Sirna dalam lembaran masa lalu

9
8
7
6
5
4
3
2
1
Selamat Tahun Baru 2012 Indonesiaku

Semoga lembaran putih di tahun baru
Tak akan tercemar dengan :

Kebengisan aparat penegak hukum
Ketidakpedulian penguasa terhadap kemiskinan
Kerakusan akan harta sehingga korupsi merajalela
Murkanya sang alam menebar bencana
Kesesatan dalam kedok terorisme
Kenistaan prilaku dengan maraknya pemerkosaan
Ketidakadilan dalam penindasan
Pesta pora diatas linangan air mata bangsa


Dan secercah harapan untuk Indonesia tercinta
Untuk hadirnya Pemimpin yang berwibawa
Yang tak tuli mendengar jeritan rakyat
Yang tak buta melihat penderitaan dan kemiskinan rakyat
Yang tak bisu membela hak-hak rakyat
Yang tak gentar membela rakyat
Yang tak bersandiwara dalam memimpin semua bangsa dalam negeri tercinta
INDONESIA

Dan kiranya, Tuhan Yang Maha Kuasa
Akan membuat semua menjadi nyata
Sehingga Indonesia tak perlu berduka
Yang terus hidup dalam sandiwara

Semoga semua indah pada waktunya…..
Mari kita songsong dengan semua asa
Untukmu Indonesia tercinta



.............
Didedikasikan untuk semua saudara sebangsa setanah air

Untuk pengorbanan mereka yang mengabdi kepada bangsa tanpa kenal lelah

Untuk Sondang  Hutagalung 
yang berkorban demi tak butanya lagi pemerintah akan jeritan rakyatnya

Untuk semua wakil rakyat yang menyuarakan keadilan dan mengedepankan kepentingan rakyat 

Untuk semua wakil bangsa dalam bidang olahraga, seni dan budaya

INDONESIA….Merdeka



by

Rabu, 14 Desember 2011

IBLIS BERPARAS MANUSIA

Caci maki,
pukulan demi hantaman,
datang bertubi-tubi
teriakan,
cemooh
hardikan dalam kemarahan terluapkan....

Bebas, lepas,
bagai negeri tak beradab
Manusia tak lebih hina dari binatang
dan lebih hina lagi yang melakukan
Tatkala aparatur negara,
bersama mereka-mereka
yang katanya pengayom dan pelayan masyarakat
dalam seragam berlaraskan senjata,
menyaksikan kejadian kebiadaban
berbaur dengan kaum barbar

Hina….
Sungguh hina!!!
Manusia dalam balutan iblis neraka
Atau IBLIS BERPARAS MANUSIA

Bak lagu genjer-genjer diperdengarkan....
Kata-kata tak bertuan
dan budaya tanpa pri kemanusiaan
Darah mengucur segar
raungan dianggap hanya sebuah kenikmatan,kata mereka

Mereka seperti iblis atau iblis jadi manusia
Apa yang ditabur kini , akan dituai kelak

Semoga darah yang mengalir,
Dan jeritan dalam erangan gaduh
Terbayarkan kelak
Dengan kertakan gigi dalam rintihan neraka
Para pelaku yang hina,
Lebih hina dari yang dihinakan


















Puisi ini dipersembahkan untuk korban HAK ASAZI MANUSIA
Dalam tayangan yang disertakan ini,betapa bejatnya aparatur negara
Karena terdengar jelas,teriakan kata-kata Pak Lurah! Yang artinya beliau ada ditempat kejadian. Dan untuk mereka yang katanya pelayan dan pengayom masyarakat, menenteng senjata, penegak keadilan, melihat dan menonton hukum rimba dijalankan di negeri hukum INDONESIA.
Negeri yang katanya punya jiwa ramah tamah.
Sungguh ironis dan mengenaskan!!!

Negeri KAUM BARBAR, atau NEGERI TAK BERTUHAN!


BY :




14 November 2011

Selasa, 01 Februari 2011

ENGKAU TETAP INDONESIA KU

HANYA UNTUK ORANG INDONESIA
YANG BUKAN WNI DILARANG BACA
INI BUKAN PUISI
JUGA BUKAN PROSA
INI CUMA SEBUAH TULISAN TANPA BENTUK



Mau baik susah.
Mau tulus, diprasangka
Seperti buah simalakama
Pandangan melahirkan asa
Asa membawa cinta
Lalu terlahir jadi perbuatan nyata

Namun sekali lagi sungguh sulit
Baik saja salah, apa lagi salah.
Benar saja tidak benar, apalagi tidak benar.

Menyalurkan kasih divonis menyebarkan firman
Meniupkan keadilan malah jadi bulan bulanan.

Yang hebat sudah tiada, harusnya jadi bapa bangsa
Yang ada hanya tebar pesona dan berjanji dusta

Lembaga bukan lagi lembaga
Semua ada kepentingan dan juga keserakahan

Yang katanya menentukan tentang keadilan
Malah jauh dari keadilan

Yang katanya berprinsip pelayanan
Malah menjadi pemerasan

Setali tiga uang, bak pinang dibelah dua
Kalo penyanyi bilang mau dibawa kemana?
Mungkin tepatnya dibawa ke lembah ratapan

Kalau mereka bilang itu ada didadaku,
Cuma simbol saja tanpa perilaku
Yang ada juga hanya hal semu, dan kaku
Tak bisa menyatu.

Sebelah utara meniup
Sebelah selatan menghisap
Sebelah barat menggali
Sebalah timur menimbun

Tiap hari mendengar
Tiap hari melihat

Semua bangga dengan seragamnya
Tapi tak pantas dengan kelakuannya

Semua bangga dengan korpsnya
Tapi tak sesuai dengan semboyannya

Mungkin hanya bencana yang bisa menyatukan semuanya
Dan malapetaka yang bisa menghentikan semua.
Tapi apa perlu azab itu turun ke atasnya
Atau memporakporandakan ibu pertiwi tercinta?

Laut itu asin rasa airnya.
Bagaimana itu mau ditawarkan?
Sia sia.

Matahari itu terbit dai ufuk timur.
Bagaimana berharap akan terbit dari ufuk barat?
Lagi lagi sia sia.

Apa yang harus dirubah?
Atau siapa yang harus merubah?
Kantongku penuh, buat apa kuurusi kantongmu?
Airku banyak, buat apa kupikirkan kemaraumu?

Tak pernah tenang barang sekejap.
Hari raya hanya dijadikan cara tiarap sementara

Setelahnya,
Rambut yang hitam bukan makin hitam, tapi makin beruban
Tawa hanya ada diujung bibir, bukan dari hati.
Menangis hanya bermodalkan obat tetes saja, bukan karena iba
Atau pun karena haru.

Sinetron bukan saja di televisi
Tapi dalam kehidupan sehari hari

Petani jadi pejabat,
Pelawak jadi pengusaha,
Serdadu jadi pemuka,
Preman jadi guru,
Selebritis jadi pejabat
Pejabat jadi selebritis

Orang kaya jadi orang miskin
Dan jadi orang hina, katanya cintami atmanegara,
Bayar pajak aja susah.

Orang miskin jadi orang kaya,
Tidurnya nyenyak, makan nikmat,
Walau hanya dikolong jembatan,
Atau makanan dari warteg tetangga.

Kalo bukan dari sekarang, kapan lagi.
Apa seharusnya Yang Kuasa ciptakan manusia,
Tanpa kemaluan?

Apa seharusnya yang kuasa ciptakan manusia dengan banyak kemaluan?
Karena mereka tidak tahu malu.

Atau kurang mengerti apa itu malu dan memalukan
Apa itu kemaluan dan malu maluin
Dan mana yang bikin malu dan mana yang tidak

Yang bener jadi keblinger
Yang salah jadi makin ngelantur


Memvonis bersalah diperiksa
Memvonis bebas lebih diperiksa

Katanya miskin, kok punya banyak tanah?
Katanya dagangan sepi,kok tokonya makin banyak?
Katanya gaji kecil, lalu boleh korupsi?
Katanya birokrasi bikin pusing, lalu boleh suap menyuap?
Katanya biasa lama, kaget kalo sebentar?
Katanya buat apa dipersulit,kalo bisa dibikin mudah?
Ah, itu hanya slogan semata
Sidak sementara, lalu tiarap
.................
lagi lagi hanya sementara.
Sesudahnya kembali seperti semula
Nikmat, katanya


Ada ada saja
Penyelesai masalah gudangnya masalah
Pengayom kesehatan malah sarang penyakit
Penegak keadilan malah tidak adil
Pelayan masyarakat malah dilayani masyarakat

Mau jadi pahlawan?
Dikeroyok rame rame
Bila perlu diancam rame rame
Ngakunya dari den den
Yang satu ngaku dari sus sus

Tugasnya:
Mengintimidasi
Menghilangkan nyawa orang
Sekarang jaman Markus, padahal lebih kejam dari Petrus


Warna saja jadi kebanggaan. Buat apa?
Sok idealis, sok nasionalis.
Bayar pajak tak mau
Bayar pajak selalu menghindar
Ada saja 1001 alasan
Katanya garuda di dadaku
Sukanya ribut melulu, ribut bukan melawan musuh
Hanya berani melawan saudara sendiri.

Mereka yang nonton, hanya ketawa
Jadi tontonan kok bangga.

Biar eksis?
kelaut aja.....
tau ga arti garuda didadaku?
tau ga arti merah putih adalah kebanggaanku
tau ga arti Indonesia tumpah darahku?
Berantas tikus tikus got!
Perampas beras rakyat
Berantas kejahatan kerah putih!
Perampas kekayaan negara
Perampas hak azasi rakyat jelata
Berantas anarki berkedok agama
Jangan nodai kesucian
Jangan nodai akhlak kemanusiaan

Agama?
Mana ada agama keras
Yang ada juga garis keras

Mana ada agama jahat?
Yang jahat juga manusia nya

Mana ada agama salah?
Yang salah selalu penganutnya

Kapan Indonesia maju?
Sekaranglah saatnya
Kapan Indonesia jaya
Sekaranglah mulainya

Bukan hanya sebuah legenda
Tapi ini saatnya...
Karena Bagaimanapun,
Engkau tetap Merah Darahku
Engkau tetap Suci negaraku
Engkau tetap INDONESIA ku.

By smile

Sabtu, 01 Januari 2011

SELAMAT TAHUN BARU INDONESIA

Ini awal tahun baru,

Adimuka tetaplah sama,
Dan Adyaksa tutup mata
Serta junjungan neraca bertepuk dada
Ber-raport merah,tetap nyantai, dan tertawa,
Itu sudah biasa, katanya.
Walau satu masuk dan sepuluh lepas,
Tetap akan diam seribu bahasa
Dan akhirnya menghilang, dalam bias waktu
Tanpa berita, juga makna


Ini awal tahun baru,

Masih seputar berita
Nenek-nenek dan sop buntutnya
Ibu tua dengan sebiji buah jatuh dalam perkara
Bapak tua dengan peluh membasahi jiwa
Terlunta lunta beralas sampah


Ini awal tahun baru,

Garuda di dada
Berkibar Sang Saka tercinta
Dalam gegap gempita
Berperisai Lima Panca
Menyatukan  : "Sumpah Palapa"


Ini awal tahun baru,

Diantara alunan kata dalam irama
Secercah harap dan juga asa
Berharap mentari bersinar ceria
Menaungi Bhumi Pertiwi tercinta


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Junjungan diatas segala junjungan
Langit diatas segala Angkasa
Pemilik Halilintar ,  serta Guntur Mahadaya
Pemilik Samudra juga Puncak- Puncak Merah Menyala


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Kubersujud dalam doa,
Dalam hening dan dalam asa
Untuk Indonesia lebih bahagia
Sejahtera, Aman Sentosa

Karena,....
Di sini aku menjelma
Di sini aku berpijak
Di sini aku menghirup udara

Selamat Tahun Baru Indonesia








01 Januari 2011

Selasa, 14 Desember 2010

INDONESIA

Cucuran merah kental membasahi bhumi 
Meregang nyawa tak kenal ‘tanpa’
Membusung dada bagai Swa Bhuwana Paksa
Adarma bagi tanah tumpah semesta

Isakan tangis derita nestapa
Dibayar mahal dengan tetesan dan cucuran
Dari perjuangan bambu runcing dalam sejarah
Merah putih berkibar perkasa di udara
Layak mereka menyandang Bintang Kartika Mulia
Untuk setiap gerak langkah
Tetes airmata dan darah
Bagi Bhumi Pertiwi Maha Karya
Hasil perjuangan tiada henti para pahlawan bangsa

Dari pergerakan sumbang daya upaya
Dalam meraih fajar serangan di sudut Yogya
Berteriak lantang gagah perkasa
Dalam semangat juang Maha Putra

Jika ada Garuda di dada
Kebanggaan segenap jiwa
Haruskah lengser berganti rupa
Hanya karena Aksara dalam kitab pidana

Dulu kala,
Hanya satu tujuan utama,
Merdeka !!!

Tanpa berpikir reformasi atau demokrasi
Tanpa melihat Siapa Raja atau Panglima
Abdi atau rakyat jelata
Satu tujuan untuk nusa bangsa
Dalam bhinneka Tunggal Ika
Meraih sang Saka Berkibar di angkasa
Dalam gempita INDONESIA RAYA

Semua kini nampak percuma
Agustus 45 hanya tinggal kenangan bak cinderamata
Mahabarata - Bharata Yudha
Disusupi kurawa dasamuka
Ber devide et impera
Dari Barat sampai ke timur
Dalam pesisir alam Nusantara

Tak ada lagi arti Darah dalam kesucian
Tak ada lagi arti JATAYU Perkasa
Tak ada lagi LIMA PANCA Berperisai Baja
Tak ada lagi ragam dalam Nusantara

Semua sirna....karena ulah manusia

Jayabaya berkata,
Tentang Satria piningit penyelamat bangsa
Hanya kata kata syair belaka
Yang tak kunjung membawa ambarukma
Bagi Bumi pertiwi tercinta
INDONESIA

Sewaktu demi sewaktu
Mengalun dalam desiran pasir yang menderu
Menanti Aruna bersinar di ufuk timur
Walau kabut menutup pekat
Tapi ruas ruas harapan dalam impian
Anjaya dalam hati lubuk sanubari
Walau sampai anumerta dalam nisan kalibata

Ini bangsaku
Ini Negeriku
Ini Tumpah darahku
Ini Bhumiku
Ini Hidupku





















Tak bisa kupungkiri rasa asmaradahana
Dalam Atma dan Atmaja
INDONESIA Tanah Pusaka
INDONESIA Tanah Nan Jaya
INDONESIA Tanah Air Beta

INDONESIA.
by 






15 DESEMBER 2010