Selasa, 01 Februari 2011

AKU TIDAK TAHU

Aku mau berenang,tapi aku takut air
Aku mau pandai, tapi aku malas untuk belajar
Aku mau menyumbang, tapi aku tak punya uang
Aku mau membantu, tapi hanya niat tanpa prilaku

Aku tahu, apa itu malu
Tapi aku suka tak tahu malu

Tapi dibalik semua itu :
Aku mau kamu tahu,
Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang aku,
Dan aku mau kamu tidak tahu,
Tentang apa yang tidak perlu kamu tahu,
Karena apapun yang kamu tahu tentang aku,
Tak akan bisa melebihi dari pengetahuanku tentang diriku sendiri
Aku punya banyak hal yang tak kamu tahu,
Bahkan...

Aku sendiripun tak mengetahuinya
Karena begitu banyak yang ku punya dalam hidupku,
Yang tak bisa terungkap semuanya

Aku bukan objek yang bisa kamu jadikan sumber inspirasimu
Aku bukan objek yang kamu bisa perlakukan semaumu

Ketika kamu berpikir kamu sudah mengetahuinya,
Kamu menjadi tidak tahu dengan apa yang kamu tahu

Ketika kamu merasa kamu sudah menjadi Maha Tahu
Maka kamu sama sekali tidak tahu apa-apa dengan pengetahuanmu itu

Ketika kamu sudah merasa berada dalam situasi maha tahu
Kamu tak lagi berpikir untuk mencari pengetahuan yang lain

Kamu terlena dalam pengetahuanmu
Walau sebenarnya kamu itu menjadi tidak tahu apa apa.

Apa yang harusnya kamu lakukan dengan segala pengetahuanmu itu?
Baik untuk mengetahui akan orang lain, maupun akan dirimu sendiri?
Cukup dengan menjadi orang yang tak merasa serba tahu
Maka kamu akan terus lapar mencari hal lain yang belum kamu ketahui

Kamu tahu, namun kamu tidak tahu
Kamu tahu, namun kamu benar benar tidak tahu kalau kamu tahu
Kamu tahu, namun kamu tidak benar benar ingin tahu hal lain
Yang belum kamu tahu
Kamu hanya tahu, kalau kamu telah mengetahui,
Walau lagi lagi dalam kenyataannya kamu masih tidak tahu, apalagi
Serba tahu.

Pikirkanlah semuanya itu
Menjadi serba tahu dalam ketidaktahuan
Atau menjadi serba tidak tahu dalam pengetahuan


Aku, tidak tahu.







ENGKAU TETAP INDONESIA KU

HANYA UNTUK ORANG INDONESIA
YANG BUKAN WNI DILARANG BACA
INI BUKAN PUISI
JUGA BUKAN PROSA
INI CUMA SEBUAH TULISAN TANPA BENTUK



Mau baik susah.
Mau tulus, diprasangka
Seperti buah simalakama
Pandangan melahirkan asa
Asa membawa cinta
Lalu terlahir jadi perbuatan nyata

Namun sekali lagi sungguh sulit
Baik saja salah, apa lagi salah.
Benar saja tidak benar, apalagi tidak benar.

Menyalurkan kasih divonis menyebarkan firman
Meniupkan keadilan malah jadi bulan bulanan.

Yang hebat sudah tiada, harusnya jadi bapa bangsa
Yang ada hanya tebar pesona dan berjanji dusta

Lembaga bukan lagi lembaga
Semua ada kepentingan dan juga keserakahan

Yang katanya menentukan tentang keadilan
Malah jauh dari keadilan

Yang katanya berprinsip pelayanan
Malah menjadi pemerasan

Setali tiga uang, bak pinang dibelah dua
Kalo penyanyi bilang mau dibawa kemana?
Mungkin tepatnya dibawa ke lembah ratapan

Kalau mereka bilang itu ada didadaku,
Cuma simbol saja tanpa perilaku
Yang ada juga hanya hal semu, dan kaku
Tak bisa menyatu.

Sebelah utara meniup
Sebelah selatan menghisap
Sebelah barat menggali
Sebalah timur menimbun

Tiap hari mendengar
Tiap hari melihat

Semua bangga dengan seragamnya
Tapi tak pantas dengan kelakuannya

Semua bangga dengan korpsnya
Tapi tak sesuai dengan semboyannya

Mungkin hanya bencana yang bisa menyatukan semuanya
Dan malapetaka yang bisa menghentikan semua.
Tapi apa perlu azab itu turun ke atasnya
Atau memporakporandakan ibu pertiwi tercinta?

Laut itu asin rasa airnya.
Bagaimana itu mau ditawarkan?
Sia sia.

Matahari itu terbit dai ufuk timur.
Bagaimana berharap akan terbit dari ufuk barat?
Lagi lagi sia sia.

Apa yang harus dirubah?
Atau siapa yang harus merubah?
Kantongku penuh, buat apa kuurusi kantongmu?
Airku banyak, buat apa kupikirkan kemaraumu?

Tak pernah tenang barang sekejap.
Hari raya hanya dijadikan cara tiarap sementara

Setelahnya,
Rambut yang hitam bukan makin hitam, tapi makin beruban
Tawa hanya ada diujung bibir, bukan dari hati.
Menangis hanya bermodalkan obat tetes saja, bukan karena iba
Atau pun karena haru.

Sinetron bukan saja di televisi
Tapi dalam kehidupan sehari hari

Petani jadi pejabat,
Pelawak jadi pengusaha,
Serdadu jadi pemuka,
Preman jadi guru,
Selebritis jadi pejabat
Pejabat jadi selebritis

Orang kaya jadi orang miskin
Dan jadi orang hina, katanya cintami atmanegara,
Bayar pajak aja susah.

Orang miskin jadi orang kaya,
Tidurnya nyenyak, makan nikmat,
Walau hanya dikolong jembatan,
Atau makanan dari warteg tetangga.

Kalo bukan dari sekarang, kapan lagi.
Apa seharusnya Yang Kuasa ciptakan manusia,
Tanpa kemaluan?

Apa seharusnya yang kuasa ciptakan manusia dengan banyak kemaluan?
Karena mereka tidak tahu malu.

Atau kurang mengerti apa itu malu dan memalukan
Apa itu kemaluan dan malu maluin
Dan mana yang bikin malu dan mana yang tidak

Yang bener jadi keblinger
Yang salah jadi makin ngelantur


Memvonis bersalah diperiksa
Memvonis bebas lebih diperiksa

Katanya miskin, kok punya banyak tanah?
Katanya dagangan sepi,kok tokonya makin banyak?
Katanya gaji kecil, lalu boleh korupsi?
Katanya birokrasi bikin pusing, lalu boleh suap menyuap?
Katanya biasa lama, kaget kalo sebentar?
Katanya buat apa dipersulit,kalo bisa dibikin mudah?
Ah, itu hanya slogan semata
Sidak sementara, lalu tiarap
.................
lagi lagi hanya sementara.
Sesudahnya kembali seperti semula
Nikmat, katanya


Ada ada saja
Penyelesai masalah gudangnya masalah
Pengayom kesehatan malah sarang penyakit
Penegak keadilan malah tidak adil
Pelayan masyarakat malah dilayani masyarakat

Mau jadi pahlawan?
Dikeroyok rame rame
Bila perlu diancam rame rame
Ngakunya dari den den
Yang satu ngaku dari sus sus

Tugasnya:
Mengintimidasi
Menghilangkan nyawa orang
Sekarang jaman Markus, padahal lebih kejam dari Petrus


Warna saja jadi kebanggaan. Buat apa?
Sok idealis, sok nasionalis.
Bayar pajak tak mau
Bayar pajak selalu menghindar
Ada saja 1001 alasan
Katanya garuda di dadaku
Sukanya ribut melulu, ribut bukan melawan musuh
Hanya berani melawan saudara sendiri.

Mereka yang nonton, hanya ketawa
Jadi tontonan kok bangga.

Biar eksis?
kelaut aja.....
tau ga arti garuda didadaku?
tau ga arti merah putih adalah kebanggaanku
tau ga arti Indonesia tumpah darahku?
Berantas tikus tikus got!
Perampas beras rakyat
Berantas kejahatan kerah putih!
Perampas kekayaan negara
Perampas hak azasi rakyat jelata
Berantas anarki berkedok agama
Jangan nodai kesucian
Jangan nodai akhlak kemanusiaan

Agama?
Mana ada agama keras
Yang ada juga garis keras

Mana ada agama jahat?
Yang jahat juga manusia nya

Mana ada agama salah?
Yang salah selalu penganutnya

Kapan Indonesia maju?
Sekaranglah saatnya
Kapan Indonesia jaya
Sekaranglah mulainya

Bukan hanya sebuah legenda
Tapi ini saatnya...
Karena Bagaimanapun,
Engkau tetap Merah Darahku
Engkau tetap Suci negaraku
Engkau tetap INDONESIA ku.

By smile

Sabtu, 01 Januari 2011

SELAMAT TAHUN BARU INDONESIA

Ini awal tahun baru,

Adimuka tetaplah sama,
Dan Adyaksa tutup mata
Serta junjungan neraca bertepuk dada
Ber-raport merah,tetap nyantai, dan tertawa,
Itu sudah biasa, katanya.
Walau satu masuk dan sepuluh lepas,
Tetap akan diam seribu bahasa
Dan akhirnya menghilang, dalam bias waktu
Tanpa berita, juga makna


Ini awal tahun baru,

Masih seputar berita
Nenek-nenek dan sop buntutnya
Ibu tua dengan sebiji buah jatuh dalam perkara
Bapak tua dengan peluh membasahi jiwa
Terlunta lunta beralas sampah


Ini awal tahun baru,

Garuda di dada
Berkibar Sang Saka tercinta
Dalam gegap gempita
Berperisai Lima Panca
Menyatukan  : "Sumpah Palapa"


Ini awal tahun baru,

Diantara alunan kata dalam irama
Secercah harap dan juga asa
Berharap mentari bersinar ceria
Menaungi Bhumi Pertiwi tercinta


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Junjungan diatas segala junjungan
Langit diatas segala Angkasa
Pemilik Halilintar ,  serta Guntur Mahadaya
Pemilik Samudra juga Puncak- Puncak Merah Menyala


Ini awal tahun baru,

Padamu ya Gusti
Kubersujud dalam doa,
Dalam hening dan dalam asa
Untuk Indonesia lebih bahagia
Sejahtera, Aman Sentosa

Karena,....
Di sini aku menjelma
Di sini aku berpijak
Di sini aku menghirup udara

Selamat Tahun Baru Indonesia








01 Januari 2011

Selasa, 14 Desember 2010

INDONESIA

Cucuran merah kental membasahi bhumi 
Meregang nyawa tak kenal ‘tanpa’
Membusung dada bagai Swa Bhuwana Paksa
Adarma bagi tanah tumpah semesta

Isakan tangis derita nestapa
Dibayar mahal dengan tetesan dan cucuran
Dari perjuangan bambu runcing dalam sejarah
Merah putih berkibar perkasa di udara
Layak mereka menyandang Bintang Kartika Mulia
Untuk setiap gerak langkah
Tetes airmata dan darah
Bagi Bhumi Pertiwi Maha Karya
Hasil perjuangan tiada henti para pahlawan bangsa

Dari pergerakan sumbang daya upaya
Dalam meraih fajar serangan di sudut Yogya
Berteriak lantang gagah perkasa
Dalam semangat juang Maha Putra

Jika ada Garuda di dada
Kebanggaan segenap jiwa
Haruskah lengser berganti rupa
Hanya karena Aksara dalam kitab pidana

Dulu kala,
Hanya satu tujuan utama,
Merdeka !!!

Tanpa berpikir reformasi atau demokrasi
Tanpa melihat Siapa Raja atau Panglima
Abdi atau rakyat jelata
Satu tujuan untuk nusa bangsa
Dalam bhinneka Tunggal Ika
Meraih sang Saka Berkibar di angkasa
Dalam gempita INDONESIA RAYA

Semua kini nampak percuma
Agustus 45 hanya tinggal kenangan bak cinderamata
Mahabarata - Bharata Yudha
Disusupi kurawa dasamuka
Ber devide et impera
Dari Barat sampai ke timur
Dalam pesisir alam Nusantara

Tak ada lagi arti Darah dalam kesucian
Tak ada lagi arti JATAYU Perkasa
Tak ada lagi LIMA PANCA Berperisai Baja
Tak ada lagi ragam dalam Nusantara

Semua sirna....karena ulah manusia

Jayabaya berkata,
Tentang Satria piningit penyelamat bangsa
Hanya kata kata syair belaka
Yang tak kunjung membawa ambarukma
Bagi Bumi pertiwi tercinta
INDONESIA

Sewaktu demi sewaktu
Mengalun dalam desiran pasir yang menderu
Menanti Aruna bersinar di ufuk timur
Walau kabut menutup pekat
Tapi ruas ruas harapan dalam impian
Anjaya dalam hati lubuk sanubari
Walau sampai anumerta dalam nisan kalibata

Ini bangsaku
Ini Negeriku
Ini Tumpah darahku
Ini Bhumiku
Ini Hidupku





















Tak bisa kupungkiri rasa asmaradahana
Dalam Atma dan Atmaja
INDONESIA Tanah Pusaka
INDONESIA Tanah Nan Jaya
INDONESIA Tanah Air Beta

INDONESIA.
by 






15 DESEMBER 2010








Jumat, 10 Desember 2010

Misteri kehidupan dalam kematian

Kami, yang sirna ditiup angin
Mengebas debu dari kaki kami
Kami yang tiada, menjadi sebuah cipta, tanpa busana

Riak dan gelombang membasahi gelap
Dalam berkelana meniti pantai
Melayang, dan melayang
Membalut duka dalam kelam gulita
Menjadi satu iota secercah asa

Jika ada pada mulanya,
Nama atau rupa, tiada wujud
Jika tubuh itu, hina
Salib dan darah hanya untuk hal percuma

Ketika dihembus, bernyawa
Kembali pada akhir
Terbayang dalam kegelapan
Dan kekelaman.
Dingin,..membeku dalam balutan rayap
Menghilang tanggal dalam sisa

Jika pertama dan kedua,
Dicampak-kan dalam kertak lembah ratapan
Maka deraian lain sama saja
Sia sia, percuma.
Kembali akan sirna, dalam kebusukan cacing cacing ditanah
Meratap dalam erangan panjang
Dan dalam rintihan keabadian.
Sekalipun irisan demi irisan dihidangkan
Dalam talam kebesaran.

Untuk apa?

Jika dimensi dilintas dalam ruang waktu
Dan aksara terucap tanpa makna
Kelam itu memporak poranda
Bias meronah dalam merah,darah

Kami menangis,
Dalam simpang jalan
Kami meratap,
Di antara sudut tajam.
Kami memohon, dalam bisikan erang

Jika saja jari ini membeku,
Maka sekamnya api kan tertutup malu.
Jika belas kasih ini tersisa
Mungkin kami akan bisa mendapat sedikit saja biji sesawi.

Tebusan tak pernah sebanding
Noktah merah tak lagi berbekas
Dalam alunan alunan ketidakpastian
Dalam kebusukan dan puing puing kebesaran
Yang kelam, mencekam
Biar lewat dan kemudian menghilang

Pengetahuan kami tak cukup
Menyingkapkan siratan dalam suratan
Misteri dalam keabadian
Sampai bumi hangus berantakan.

Sekali berarti,
Tak pernah lagi berarti.
Lalu mati.
Mati.
Mati.
Mati,
Dan mati.

Mengintai, mendekat
Sekali lagi,
Mati
Bukan kembali dalam kerlip warna dan warni
Bukan kembali, dalam salju, dan patahan cemara.

Namun
Setajam Pedang
Sekuat Halilintar
Sedahsyat topan

Kami, meratap tanpa henti bisa berharap
Secuil saja tetesan embun surga.
Setetes.
Untuk jeritan erangan kami.
Dari lembah terdalam
Gelap.yang benar benar mencekap gulita.
Kertakan – ratapan –pilu,ngilu.
Tolong,
Kami.

BY







Desember 11st- 2010

Minggu, 21 November 2010

PUISI UNTUK AGAMA

Agama harus ciptakan perdamaian
Agama harus ciptakan keadilan
Agama harus bebaskan biaya menuju sorga

Itulah tugas agama
Itulah gunanya agama
Itulah artinya agama

Tempat manusia bersandar dan berharap
Kenapa tidak?
Agama itu ada Firman Tuhan
Firman Tuhan itu untuk manusia
Yang harus kita pelajari sejak dini
Hanya saja kita tak selalu memahami-Nya

Agama harus ciptakan perdamaian
Agama harus ciptakan keadilan
Agama harus bebaskan biaya menuju sorga

Oleh karena itu bebaskan manusia memilih agamanya
Jangan memaksa dan terpaksa
Biar semua menggunakan akal budinya
Biar semua tidak jadi bodoh dan ditipu

Oleh karena itu biarkan semua memilih kepercayaannya
Dan mampu menjaga hidup kebersamaan

Agama agama agama
Mengajarkan surga juga dunia

Agama agama agama
Mengajarkan keindahan hidup berdampingan

Kalau tidak bubarkan saja
Atau biarkan Tuhan yang mengadilinya

Agama harus memberikan ketentraman
Agama harus menghormati kehidupan
Agama harus menghargai perbedaan

Tinggal bagaimana manusianya
Apakah sudah mengerti tentang agamanya?
Ataukah sudah merasa pintar melebihi Tuhannya?
Terserah manusia yang mengaku beragama itu

Kalau salah jangan salahkan agamanya

Agama harus ciptakan perdamaian
Agama harus ciptakan keadilan
Agama harus bebaskan biaya menuju sorga

Kalau tidak bisa bubarkan saja!



121110
Nara sumber puisi : SAJAK UNTUK AGAMA
by TANTE PAKU
Komunitas Blogger Kristen
SABDA SPACE

Sabtu, 13 November 2010

AKU BUKAN MEREKA

PUISI KE-DUA : AKU BUKAN MEREKA

Mereka bilang aku bodoh
Tapi aku dicerdaskan Nya

Mereka bilang aku sakit
Tapi aku disembuhkanNya

Mereka bilang aku lemah
Tapi aku kuat bersamaNya

Mereka bilang aku jatuh
Tapi aku diangkatNya

Mereka bilang aku hancur
Tapi aku dibentukNya

Mereka bilang aku sedih
Tapi aku dihiburNya

Mereka bilang aku salah
Tapi aku dibenarkanNya

Mereka bilang aku berdosa
Tapi aku ditebusNya

Mereka bilang aku menangis
Dan air mataku jatuh
Tapi aku dibuatnya tersenyum,
Dan disekanya airmataku

Mereka bilang aku bukan siapa siapa
Aku NOTHING
Tapi Aku berharga dihadapanNya

Mereka bilang aku begini
Mereka bilang aku begitu
Tapi Dia bilang bukan begini
Dan bukan begitu

Mereka hanya menyindir dan memandang sinis
Menonton saja dan hanya bercaci
Serta kadang memaki

Tapi Dia tidak….
Dia selalu menjadi penolong yang setia
Dia selalu membelai dan memandangku dengan KasihNya

Walau dunia menghimpitku
Tapi Dia selalu memberikan kelegaan padaku

Jadi, perduli apa aku dengan mereka
Dan perduli apa mereka dengan aku?

Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka perbuat
Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka bilang tentang aku

Biarkan aku hidup dalam duniaku
Dan mereka hidup dalam dunia mereka

Karena aku bukan mereka dan mereka bukan aku
Karena aku adalah aku
Dan mereka tetap mereka,

Aku punya Allah Sang Maha Pencipta
Yang tulus dan tak bercacat cela

Jadi. Tinggalkanlah aku, dan hiduplah dalam dunia mereka,
dan bukan duniaku.....
Karena aku hanya perlu DIA yang mengasihiku



by







February 10th - 2o1o
Puisi aku bukan mereka